Rabu, 08 Mei 2013

ADAT PANTANG LARANG


ADAT PANTANG LARANG
(adatku pusakaku)
“ Semua Ada Baiknya ’’
Oleh: Jessy Latni Gusniarta
SMAN PINTAR KAB. KUANSING

Pantang Larang Orang Melayu Tradisional merupakan kepercayaan masyarakat Melayu zaman lampau berkaitan dengan adat dan budaya warisan nenek moyang. Kebanyakan adalah bertujuan untuk mendidik masyarakat agar mengamalkan nilai-nilai murni dalam kehidupan. Apa yang disebut bukan untuk dipercayai tetapi untuk dihayati maksud yang tersembunyi di sebalik  pantang larang yang telah diperturunkan secara lisan sejak zaman berzaman. Hal ini mengingatkanku dengan kisah kehidupanku di bumi Riau ini.
Pagi ini kabut masih menyelimuti desaku, aroma pedesaan sangat kurasakan. Terhirup udara segar yang memberikanku semangat untuk terus berkarya dan menjalani hari-hariku dengan penuh ceria. Sang surya kembali menyapaku dengan  sinarnya yang mempesona, menghangatkan pelosok negeri Riau ini. Ku buka jendela kamar pagi ini menyambut datangya pagi dan kukatakan selamat pagi negriku. Sesaat terlihat bangunan tua di pojok kananku. Seperti biasanya aku ingin pergi kesana tetapi tidak pagi ini, karena aku harus melaksanakan kewajibanku sebagai pelajar yang terus menuntut ilmu sungguh-sungguh agar kelak akulah yang menjadi tombak negeri betuah ini.
 “Emak, aku berangkat ke sekolah dulu ya” kataku sambil meyalami emak seperti biasa.

            Aku selalu pergi berjalan kaki. Tak hanya aku yang berjalan kaki, teman- teman seumurku juga setiap harinya pergi berjalan kaki. Setiap pagi kami selalu pergi bersama, tawa canda, senda gurau selalu mememaniku saatku bersama mereka. Rambutku yang selalu dikepang dua seperti ekor kuda melambai oleh tiupan angin pagi. Sesampainya di sekolah aku selalu menyapa pak Norman yang sedang menyiram tanaman disekolahku. Aktivitas disekolah  terasa begitu lelah, namun aku tak pernah putus asa untuk selalu berprestasi.
Sepulangnya dari sekolah, perutku mengeluarkan bunyi
 “Krek”, cacing diperutku sudah ingin makan.
“Emak, hari ini emak masak masakan apa?”
“Emak masak masakan kesukaanmu, ikan tri campur kacang tanah dan juga telur asin’’ jawabnya sambil menyodorkan kepadaku.
“Wah, lezat kelihatannya’’ jawabku senang. Tak pikir panjang, ku ambil sepiring nasi dan ku santap di depan pintu sambil merasakan tiupan angin dan sejuknya pepohonan di depan rumahku. Saat ku sedang asyiknya makan, emak menegurku dan ia berkata
 “Siti, tidak baik anak gadis makan di depan pintu, nanti kamu tidak dapat jodoh’’.
 “Tidak dapat jodoh mak? masak gara-gara makan di depan pintu aku kelak tak dapat jodoh mak’’ kataku bingung.
“Iya, kata orang-orang tua  dahulu memang seperti itu adanya nak, bagaimana nanti kamu tak dapat jodoh?’’
Emak kembali melontarkan adat pantang larang negeri melayu. Aku tidak mengerti. Hatiku selalu bertanya, apa hubungan makan di depan pintu  dengan tidak dapat jodoh. Aku rasa itu hanya mitos lama turunan nenek moyang akan adanya adat pantang larang itu. Aku pikir, itu tidak diperbolehkan karena dapat mengganggu orang untuk berjalan. Ya agar emak tidak mengomel lagi, aku berkata
“Ya sudah mak, aku tidak akan makan di depan pintu lagi”. Kembali aku berkata,
 ”Emak! Selalu saja begitu. Apa tidak ada perkataan lain? Kalau benar aku tidak dapat jodoh bagaimana? Ini menjadi pertanggungjawaban Mak!”, gerutuku.
“Makanya kamu  jangan lagi makan di depan pintu”.
 “Ya, baiklah, Mak!” jawabku sambil menyuci piring.
“Siti, bereskan sisa(rima)  makananmu ini? anak gadis makannya berima nanti kulitmu berkutil’’ kata emak sambil tersenyum.
“Ih, emak ada-ada saja’’.
“Ya emak, akan siti bereskan semuanya’’.
Setelah perutku penuh oleh masakan lezat buatan emakku dan rumahku telah selesai aku bersihkan. Seperti biasanya aku ingin menyegarkan kembali pikiranku dengan berkunjung ke bangunan tua, Candi Muara takus namanya. Candi ini dahulunya singgasana raja. Terlintas dipikanku saat sedang menikmati indahnya panorama disekitarnya, aku dapat menemukan raja yang gagah perwira. Saat aku sedang melihat-lihat bangunan itu, aku yang berjalan mundur terkejut saat langkah ku terhenti. Ku palingkan pandanganku kearah belakang punggungku, terlihat sosok pemuda berbaju kuning mengenakan peci dan menyandang sebuah kamera, berparas tampan.  Sepertinya dia seorang fotografer.
“Maaf nona, saya tidak sengaja’’katanya lembut.
“Tidak apa-apa tuan. Sedang apa tuan disini?” tanyaku ingin tahu.
“Saya sedang mengamati bangunan ini, saya ingin mengetahui sejarah bangunan ini, konon katanya bagunan ini peninggalaan sebuah kerajaan, bukan?” Tanyanya .
“Benar, bangunan ini merupakan salah satu situs sejarah negeri riau ini, bangunan ini memiliki ceritera akan kehidupan raja-raja melayu dahulu kala’’.
“Saya tertarik mendengar ceritera dan sejarah bangunan ini, maukah nona memperdengarkan cerita itu kepada saya?” tanyanya sopan.
“Dengan senang hati, tuan’’ jawabku malu.
“Tetapi, maaf saya belum mengetahui siapa nama nona ini? seperti pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Sebelumnya nama saya fitra ”.
“Nama  saya siti, senang berjumpa dengan tuan. Karena sebentar lagi akan magrib, saya ingin pulang. Sebab emak saya selalu mengingatkan kepada saya bahwa anak gadis tidak baik diluar rumah saat magrib datang’’.
“Baiklah, sampai jumpa esok’’ katanya sambil melambaikan tangan.
Malam tiba tak kusapa, namun semakin larut semakin indah. Berhiaskan macam-macam rasi bintang yang menyinari malam yang kelam. Tak lupa pula, sinar bulan merangkak memunculkan diri, keluar dari peraduannya. Sendiriku ini teringat akan adanya pemuda itu. Terselip di pandanganku sesaat melihat bintang bergemerlapan di langit itu, wajahnya yang tampan terbayang- bayang oleh ku.
 “Ah, apa ini, mengapa aku bisa teringat akan pemuda itu, aku tak boleh terlihat sangat menganguminya sebagai seorang gadis hendaknya aku layaknya jinak- jinak merpati’’ terlintas dipikiranku dan ku tersenyum simpul.
Keesokan harinya. Sang surya kembali muncul. Seperti biasa, ku kembali membuka jendela kamarku menyambut datangnya pagi. Pagi ini aku tidak pergi sekolah seperti biasanya, karena hari ini adalah hari liburku. Aku berlari sambil menghirup pagiku yang bernyawa menuju bangunan itu. Tampak pemuda itu sedang mengambil foto bagian terbaik dari bangunan itu. Aku mendekati dan menyapanya.
“Selamat pagi, tampaknya tuan sedang asyik mengambil gambar bangunan ini’’ kataku sambil menebar senyum.
“Selamat pagi juga nona manis, ia kelihatannya bangunan ini sangat bersejarah dan indah untuk di ambil gambarnya, apalagi jika ada objek untuk di foto” katanya santai.
Ku balas dengan senyuman perkataanya itu. “Nona, saya ingin mendengar ceritera tentang candi ini’’ katanya sambil menatap mataku.
“Baiklah tuan, saya akan menceritakanya kepada tuan’’.
Lama bercerita, telah banyak tahu pemuda itu tentang ceritera candi itu. Kemudian pemuda itu mengajakku untuk berfoto-foto di sisi terbaik candi itu. Aku terima ajakannya. Aku begitu cepat akrab denganya. Terasa seperti sudah lama mengenalnya dan Tidak sedikit pun terasa canggung berhadapan dengannya. Kami tertawa, bergurau dan berfoto bersama hingga senja hari datang. Rasanya sangat puas. Momen ini tidak akan pernah kulupakan untuk selamanya. Aku sangat senang akan kedatangannya. Hari-hariku terisi penuh warna cemerlang seperti pelangi penuhi langit disaat berganti cuaca. Aku sangat bahagia mendengar dia mengucapkan,
 “Pemandangan di Negri ini sangat indah, karena ada dirimu yang selalu beri senyum manismu untuk negri ini. Aku menyukai panorama, bangunan dan orang-orang disekitarnya”. Perkataan itu membuatku hatiku berbunga-bunga. Malam itu, tidurku terasa sangat nyenyak.
   Saat pulang setelah seharian berkeliling menikmati panorama indahnya negeri melayu ini. Rasa lapar pun aku  rasakan. Perutku ingin juga dimanjakan dengan hidangan yang lezat buatan emakku. Seperti biasaya aku mengambil sepiring nasi dan ku santap di depan pintu. Saat aku sedang asyik menyantap makanan itu. Lagi- lagi emak berkata kepadaku bahwa anak gadis itu tidak baik makan di dekat pintu, karena nanti tidak dapat jodoh. Selalu saja perkataan itu dilontarkan kepadaku. Aku tidak mengerti adat pantang larang negeri melayu. Aku rasa, itu tidak ada hubungannya. Aku kembali memelas ucapan emak.
   Kembali setelah pulang sekolah aku pergi ke kompleks candi itu, untuk bertemu pemuda itu. Namun hari itu aku tidak bertemu dengannya. Aku kembali ke sana esok harinya, kembali seperti kemarin, kembali pemuda itu tak tampak pucuk hidungnya lagi. Entah mengapa, hari ini hatiku tegang menanti kedatangannya kembali. Kuingin hari itu terulang lagi. Terulang untuk yang kedua kalinya. Tetapi, setelah berjam-jam hingga petang, ia tidak kunjung datang. Kembali kuteringat,
“Apa karena adanya adat pantang larang itu? Sehingga ia tidak ditakdirkan untukku! Jikalau semuanya benar, pasti aku akan menuruti semua perkataan emak untuk membersihkan rumah, tidak makan di depan pintu dan kamarku dengan rajin”. Aku semakin bingung dan tidak mengerti apa arti semua ini.
Hatiku bergumam, “Secepat itukah dia melupakanku?”
Hari-hari berikutnya masih saja sama. Dia juga tidak ada. Aku menunggu dengan gelisah. Aku bertanya kepada semua nelayan, tetapi mereka tidak mengenalinya. Aku bahkan juga tidak tahu siapa nama pemuda itu. Pemuda yang membuat hari itu penuh angan-angan. Aku menyesal harus bertemu dan berpisah dengan cara seperti ini. Dia bahkan tidak berpamitan dulu padaku, tidak mengabariku, aku jadi semakin benci. Ku teringat kembali,
 “Apa karena adanya adat pantang larang itu? Sehingga ia tidak ditakdirkan untukku! Jikalau semuanya benar, pasti aku akan menuruti semua perkataan emak untuk makan tidak didepan pintu”.
Semenjak kejadian itu, aku menuruti perkaataan emak, karena emak adalah orang tuaku. Aku akan mengikuti semua perkataan orangtuaku dan aku hanya ingin emak tidak mengomel lagi setiap hari. Dengan begitu, secara otomatis aku mematuhi adat pantang larang negeriku, melayu. Walau sebenarnya aku tidak yakin.

ANAKKU ANAK PACU


ANAKKU ANAK PACU
Karya : Rico Cahyanto
SMAN Pintar Kuantan Singingi


          Siang yang terik seakan menunjukkan keperkasaan mentari yang sepertinya tak mengerti dengan keadaan berjuta manusia di bumi jalurku ini. Dalam desakan rapat lautan manusia aku masih mencoba untuk bisa sampai ke tempat yang nyaman untukku bisa duduk manis, sambil menyantap makanan yang ada dalam tasku. Sudah menjadi kebiasaanku, sebelum sampai di tribun bagian depan aku tidak akan puas. Masih begitu dan begitu terus yang kualami setiap kali di kotaku  melaksanakan pesta budaya Pacu Jalur. Pacu Jalur adalah balap sampan yang berukuran kira-kira 30 meter  yang disebut jalur. Jalur didayung oleh kira-kira 40 orang yang disebut anak pacu.
          Setelah beberapa menit berdesakan, akhirnya aku menemukan tempat yang cukup strategis di tribun depan bagian kanan ini. Tepat di samping seorang bapak yang terlihat diam tak berekspresi. Hal yang tak biasa kujumpai dalam acara semacam ini, acara yang hampir kupastikan semua orang akan sekuat tenaga menyemangati jalur andalan mereka. Setelah duduk disampingnya beberapa menit hanya diam, aku makin penasaran kemudian aku bertanya.
          “Maaf, Pak. Sepertinya Bapak terlihat murung. Di acara semeriah ini sungguh mengherankan ada seorang yang termangu. Adakah sesuatu yang mungkin bisa saya bantu, Pak?”
          “Tidak ada apa-apa, Nak. Bapak sedang kurang bersemangat saja” ujar bapak itu datar.
          “Oh, baiklah kalau Bapak tidak mau cerita.” Aku membalas tanggapan bapak itu dengan lebih cuek. Tanpa kata aku menyodorkan makanan dari tasku kepada bapak itu. Dengan gelengan lemahnya aku segera tahu untuk harus tetap diam saja pada bapak itu. Walaupun masih begitu penasaran, aku melahap makanan yang kubawa tadi sambil melayangkan pandangan ke depan sana. Terlihat dua buah jalur  yang beradu cepat disana.
***   
Malam itu Bujang baru sampai dirumah, dia adalah seorang mahasiswa di Jakarta. Ia pulang karena sudah beberapa bulan tidak pulang kampung, sekaligus  ingin memberitahu kepada kedua orang tuanya mengenai penyakit ginjal yang ia idap. Ia baru mengetahui  adanya penyakit itu setelah beberapa minggu yang lalu ia memeriksakannya.
          “Ayah, ada hal penting yang ingin Bujang katakan” kata bujang ketika sudah berhadapan dengan ayahnya.
          “Hmm… Tapi sebelum kamu mengatakannya, ayah ingin menyampaikan pesan dari kakekmu ketika kemarin dia mendengar kamu akan pulang” kata ayah si Bujang.
          “Kalau memang begitu, katakan saja apa yang dipesankan kakek, Ayah” ujar Bujang.
          “Begini, Nak. Seminggu lagi Pacu Jalur akan dimulai. Kakekmu ingin melihatmu menjadi anak pacu tahun ini. Meski bagaimana nanti hasilnya, yang terpenting ia ingin melihatmu berpacu. Ia ingin kamu seperti dia dan ayah dulu. Selain mantan anak pacu, tahun ini kakekmu juga menjadi pembuat jalur kampung kita. Jadi, ia sangat berharap kamu bersedia menjadi anak pacu.” Ayahnya menjelaskan perihal tersebut.
Ayah si Bujang kemudian bertanya, “Jadi, bagaimana? Kamu mau menjadi anak pacu? Kali ini saja tidak apa-apa, setelah itu baru kamu bisa kembali ke Jakarta.”
          Karena kaget dan bingung dengan apa yang disampaikan ayahnya itu, Bujang menunduk. Dalam pikirannya berkecamuk antara apakah ia menolak dan mengatakan perihal penyakitnya atau ia menyanggupinya dan tetap menyembunyikan perihal penyakit yang menyerangnya.
          “Bujang, bagaimana? Kamu bersedia menjadi anak Pacu? Sebenarnya ayah sangat berharap kamu menyanggupi permintaan kakekmu. Ayah juga sangat ingin melihatmu mengayuh dayungmu digelanggang pacu. Walaupun tidak bagitu terlatih, tapi ayah yakin kamu bisa karena kamu sudah terbiasa mendayung dari kecil.” Kata ayahnya mengagetkan Bujang yang sedang bingung.
          “Hmm… Baiklah, Ayah. Aku akan ikut menjadi anak pacu sesuai permintaan kakek” jawab Bujang sekenanya.
          “Bagus, kalau  memang kamu bersedia. Besok pagi kamu langsung ikut berlatih saja. Kakekmu pasti  sudah menunggumu disana” kata ayah si Bujang begitu gembira. “Tapi, tadi kamu ingin mengatakan sesuatu pada ayah. Perihal apa itu, Bujang” tanyanya lagi.
          “Hmm…Tidak terlalu penting kok, Yah!” jawab Bujang gugup.
          “Kalau begitu sekarang kamu cepat istirahat, siapkan energimu untuk besok” kata ayah si Bujang.
          “Baik, Ayah.” Jawab Bujang ketika meninggalkan ayahnya sambil terus menunduk, memikirkan bagaimana caranya dia mengatakan kepada ayahnya bahwa ginjalnya tak lagi berfungsi dengan baik. Sekaligus mengatakan bahwa dia tidak boleh lagi melakukan kegiatan yang melelahkan, tapi ia tak ingin mengecewakan kakeknya yang ingin melihat cucu satu-satunya ini mengangkat tangan mengacungkan pendayungnya di gelanggang pacu.
          Malam itu, mata Bujang seakan ikut berkecamuk seperti pikirannya.  Tidak mau terpejam, sampai  lewat dari jam 2 dia baru bisa memejamkannya. Dia baru terbangun ketika kumandang adzan bersahutan di seantero kampung. Dengan mata yang setengah terpejam ia  keluar kamar dan menuju tempat wudhu. Setelah shalat subuh, ternyata pikirannya masih belum tenang. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk segera pergi menuju tempat latihan anak-anak pacu kampungnya.
“Nah, itu dia Bujang. Kalau begitu dia bisa menggantikan Ujang yang sekarang sedang sakit.” Begitu kata kakek ketika Bujang baru tiba di tempat latihan itu.
          Bujang sudah mengenal mereka semua yang ada di tempat latihan itu, karenanya  mudah saja ia bergabung dengan percakapan mereka. Sampai akhirnya mereka memulai latihan pagi itu.  Setelah latihan selesai, Bujang merasa sangat lemah.
          “Bujang, kamu sepertinya pucat sekali. Kamu sedang sakit?” tanya kakek Bujang khawatir.
          “Tidak, Kek. Mungkin kelelahan saja” jawab Bujang lirih. Dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada kakeknya.
          “Oh, kalau begitu cepatlah pulang dan segera istirahat. Besok kita masih latihan lagi” kata kakek Bujang.
          “Iya, Kek” jawab Bujang sambil berdiri. Bujang segera mempercepat  langkah gontainya menuju rumahnya. Menguatkan keadaannya, meskipun ia sungguh-sungguh tersiksa.
          Begitu setiap hari, sampai akhirnya hari yang ditunggu tiba. Meskipun Bujang sudah merasa keadaannya hampir tidak mungkin untuk ikut mendayung jalur, tapi ia masih ingin mewujudkan harapan kakek dan ayahnya itu. Dengan senyum pucatnya, ia menatap kakek dan ayahnya yang ada di barisan penonton di tribun itu sebelum jalurnya dilepas. Sampai akhirnya dilepas sudah jalur si Bujang.
          Terus mendayung, tidak peduli lagi dengan semakin lemah dirinya. Bujang terus berusaha mengimbangi kekuatan teman-temannya. Sementara di barisan penonton, ayah dan kakeknya bersorak kegirangan, karena melihat jalur dari kampungnya itu melaju jauh meninggalkan lawannya. Sampai akhirnya jalur si Bujang masuk di pancang finish. Sementara semua anak pacu mengangkat dayungnya, terlihat satu anak pacu yang tertunduk lemah di jalur.
          Sementara ayah dan kakek Bujang yang sangat bahagia mengetahui jalurnya menang, seketika terdiam tercengang.
***
          “Begitulah ceritanya, Nak. Sampai sekarang bapak sangat menyesali kejadian itu, Nak. Coba pada saat itu bapak mendengar dulu apa yang ingin dikatakan si Bujang, hal itu pasti tidak akan terjadi.” Terang bapak yang ada disampingku itu sambil menyeka air matanya.
          “Sudahlah, Pak. Itu semua memang sudah ketentuan dari Allah. Bapak harus tetap bersabar, ya.” Jawabku menenangkan bapak itu.

FOTOS COLLECTION

 My Fotos










BIODATA

BIODATAKU

NAMA                  = EGON SASTRA SAPUTRA
PANGGILAN       = EGON
JK                         = LAKI-LAKI
TTL                       = PULAU MUNGKUR, 05 OKT. 1996
ALAMAT             = SEBERANG SUNGAI
KEC.                    = GUNUNG TOAR
KAB.                   = KUANTAN SINGINGI
PROV.                 = RIAU
NEGARA            = INDONESIA
TINGGI               = 147 CM
BERAT                = 38 KG
STATUS             = PELAJAR
AGAMA             =  ISLAM
NO. HP              = 082318985096 / 082381264224
EMAIL               = sastraegon@ymail.com / saputraegon@ymail.com

PENDIDIKAN

2002-2008    = SDN 008 PULAU RUMPUT
2008-2011    = SMPN 2 GUNUNG TOAR
2011-2014    = SMAN PINTAR KUANTAN SINGINGI
2014-SKRG = UNIV. SRIWIJAYA FKIP FISIKA

PENGALAMAN OLIMPIADE, PRESTASI DAN LAINNYA:

1.  OLIMPIADE FKIP UNRI (4 s/d 8 FEBRUARI 2013)
    (PERINGKAT 16 DARI 257)

2. OLIMPIADE FMIPA UNRI (2013)

3. OSN TINGKAT KABUPATEN (2 s/d 3 APRIL 2013)
    (PERINGKAT I)

4. OSN TINGKAT PROVINSI (3 s/d 4 JUNI 2013)

5. LOMBA AJANG PRESTASI REMAJA TINGKAT PROVINSI RIAU (AGUSTUS 2013)
    (PERINGKAT II STAND-UP COMEDY)

6. PIAGAM PENGHARGAAN SEBAGAI PESERTA DIDIK BERPRESTASI ANGKATAN KELIMA SMAN PINTAR KAB. KUANTAN SINGINGI (2014)


PENGALAMAN PELATIHAN, SEMINAR DAN LAINNYA:

1. PELATIHAN NASIONAL OSN DI SMAN PINTAR
    (3 s/d 8 DESEMBER 2013)

2. PELATIHAN NASIONAL OSN DI SMAN PLUS PEKAN BARU
    (18 s/d 23 MARET 2013)

3. SEMINAR PROPOSAL PKM (PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA) UNIVERSITAS  SRIWIJAYA
    (24 SEPTEMBER 2014)

4. SOSIALISASI NASIONAL PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG
    (2013)

 5. SOSIALISASI PENYULUHAN BAHAYA NARKOTIKA, TAWURAN, HIV/AIDS, DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN (31 AGUSTUS 2013)

6.  SEMINAR NASIONAL IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DALAM DINAMIKA PEMBELAJARAN FISIKA (1 NOVEMBER 2014)

Jumat, 03 Mei 2013

CERPEN-TEMAN SEKAMARKU



Teman Sekamarku

Oleh : Egon Sastra Saputra

Sejenak aku terdiam di depan pintu kamar ku, terasa berat kakiku melangkah. Ku pandangi seluruh sisi dan sudut ruangan kamar yang sudah cukup lama kuhuni, dan terlihat begitu berantakan. Bagaimana tidak, sudah tiga hari kamar tak pernah ku bersihkan lagi. Dan memang biasanya bukan aku yang membersihkan kamar ini, tapi teman sekamar yang biasa mengerjakannya. Namun sekarang aku hanya sendirian di kamar yang cukup besar ini.
Sebulan sudah aku tidur sendirian di kamar, dan aku sudah mulai terbiasa sendiri. Teman yang dulu menemaniku di kamar ini, kini dia telah tiada. Dia telah pergi untuk selama-lamanya. Entah mengapa hari ini aku jadi teringat kejadian satu bulan yang lalu, kejadian yang begitu menyedihkan bagiku. Saat dimana terakhir kali aku untuk melihat wajahnya.
***
“kan sudah ku bilang, sebaiknya kamu israhat di kamar saja. Karna beberapa hari ini kamu sepertinya sedang sakit. Tapi tetap saja kamu nekad untuk mengikuti upacara pagi. Nah begini lah jadinya…” kataku sambil memapa temanku, Rega. Namun Rega hanya membalas dengan senyuman, padahal wajahnya terlihat begitu pucat. Tadi dia sempat jatuh ketika mengikuti upacara senin pagi.
Setelah mengantar Rega sampai ke UKS, aku segera kembali ke lapangan untuk mengikuti upacara. Aku tak perlu menemani Rega, karna kebetulan di UKS ada perawat yang akan menjaga dan merawatnya selama dia sakit. Namun aku penasaran, ada apa dengan Rega? Kenapa akhir-akhir ini dia sering sakit-sakitan??
Setelah pulang sekolah, aku lansung naik ke kamarku. Aku yakin, Rega pasti sendirian di kamar. Diakan sedang sakit, jadi dia membutuhkan seseorang untuk menemaninya. Tapi sayang kamarku kosong, tak ada siapa-siapa di kamar. Setelah ku tanyakan kepada pembina asrama, ternyata Rega sudah pulang di jemput orang tuanya.  Sayang sekali, aku tak sempat bertemu dengan Rega.
Malam harinya, ketika aku sedang mengerjakan tugas ada yang mengetuk pintu kamarku. Segera aku membuka pintu, dan terlihat sesosok lelaki berdiri dengan wajah pucat.
“Kamu Ga, tapi kok malam-malam gini datang ke sekolah. Bukannya kamu sakit?”, ucapku.
“iya sih, tapi sudah baikkan kok,” balas Rega. Dia lansung masuk ke kamar dan duduk di ranjang tempat dia biasa tidur.
“kamu sakit apa Ga?,”
“Cuma kecapek’an kok. Ntar di bawa tidur juga sembuh kok,” ucap Rega. “gimana pembelajaran di sekolah tadi?.”
“seperti biasa kok, tapi banyak tugas loh buat besok,” kataku.
Begitulah, percakapan kamipun berlansung cukup lama. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari situasi di sekolah hari ini, tentang tugas, juga tentang penyakit yang dialami Rega. Kami hanya ngobrol berdua, karena Rega melarangku memanggil teman yang lain dan dia bilang dia tak mau menggangu.
Dan anehnya, malam ini aku tak merasa mengantuk. Padahal biasanya mataku tak tahan kalau sudah lewat jam 11 malam. Tapi ini sudah jam 1 malam, tpi tak sedikitpun rasa mengantuk hinggap di mataku.
 “eh, sudah malam nie. Tidur lagi yok…” kataku mengakhiri perbincangan.
“hmm.. ayo lah,” ucap Rega.
Kami sama-sama merebahkan badan di ranjang, bersiap untuk tidur. Kulihat Rega terbaring dengan lemas dan mata terpejam, dan semakin terlihat wajahnya yang begitu pucat.  Akupun juga segera memejamkan mataku, sudah waktunya untuk tidur. Good night friend…..
***
“kamu lihat Rega gak?,” tanyaku pada teman-teman  yang lain.
“enggak tu, tapi bukannya Rega kemarin pulang?”
“iya, tapi semalam dia udah ke sini kok,”
“sejak tadi kami gak ada lihat Rega”
Kembali aku tanya sama teman-teman yang lain, namun tak ada yang melihat Rega. Saat aku bangun tidur tadi, tempat tidurnya sudah kosong. Dan sejak saat itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan Rega. Dan tak ada seorangpun yang pernah melihat Rega. Sedah ku tanya pada teman-teman yang lain, tapi tak ada yang tahu.
Tubuhku terasa kaku, keringat dingin bercucuran. Seluruh tubuhku gemetaran saat mendengar berita bahwa Rega sudah meninggal. Ternyata Rega menderita penyakit kanker dan meninggal kemarin sore di rumah sakit. Lalu, siapa yang  semalam? Siapa yang menemaniku mengobrol? Aku yakin itu Rega, karena kami mengobrol sekitar 2 jam. Mungkinkah itu hantu??
***
“Kenapa Gon?,”
“Astaghfirullah…” aku tersentak kaget mendengar suara dari belakangku. “kamu Fif, mengagetkan saja.” Ucapku.
“Ada apa? Kok tidak lansung masuk ke kamar. Malah melamun di depan pintu.” Ucap Khafif.
“Gk ada apa-apa kok.” Kataku.
Aku segera masuk kamar,ku letakkan tas dan kurebahkan tubuhku di ranjang. Badanku terasa begitu capek karena seharian belajar. Dan kulihat ranjang di sebelahku, ranjang yang sudah lama kosong tapi tetap ku biarkan. Karena aku yakin, setiap malam Rega pasti tidur di ranjang itu…..
Senin, 15 April 2013

CERPEN-MENGGAMBAR




MENGGAMBAR

By: Egon Sastra Saputra
07  APRIL 2013

          Ku genggam erat-erat pensil yang ada di tanganku sambil ku pandangi buku gambar yang putih dan bersih tanpa goresan sedikit pun. 30 menit sudah waktu berlalu, tapi aku masih belum tahu gambar apa yang mau ku lukis. Dan sekarang hanya tersisa waktu 60 menit, tapi buku gambarku masih putih polos….
          Aku arahkan pandanganku ke depan, ku lihat sesosok laki-laki yang duduk terdiam sambil memainkan laptopnya. Sesekali dia tersenyum, entah apa yang sedang ia lihat di laptopnya. Ya, dia tak lain adalah seorang guru. Dialah guru seni yang menyuruh kami untuk melukis, dan aku benci itu….
          Bukan gurunya yang aku benci, bukan juga pelajarannya. Malahan aku suka gurunya, karena dia baik, berwibawa, sering senyum, dan dia juga humoris. Dan aku juga suka pelajaran seni termasuk mengambar. Tapi yang sangat aku benci adalah tema menggambarnya. Kenapa tidak menggambar bebas saja? Kenapa temanya harus “menggambar orang yang dicintai”? Tak adakah tema lain?
          Ku coba memandangi teman-teman sekelilingku, raut wajah mereka terlihat begitu semangat. Mereka begitu menikmati pelajaran ini. Diam-diam kuintip lukisan mereka, semuanya menggambar tentang keluarganya. Ada yang menggambar ayahnya, ibunya, saudaranya, bahkan sampai kakek neneknya. Ada juga yang menggambar seluruh keluarganya yang sedang berpegangan tangan sambil tersenyum.
***
          Sedangkan aku masih tetap terdiam, belum tau gambar apa yang mau kubuat. Aku tak punya ibu, ayah, apalagi saudara. Aku hanya hidup sendiri, tanpa pernah merasakan kehangatan dari keluarga. Untuk menafkahi hidupku saja aku harus membanting tulang. Pulang sekolah aku harus bekerja di sebuah toko sebagai budak pengantar barang. Pekerjaan ini telah kujalani selama 2 tahun, Karena sebelumnya aku hanyalah seorang pemulung.
          Untung sekolah gratis, sehingga aku bisa mendapat pendidikan seperti anak-anak yang lain. Tapi tidak untuk biaya hidupku sehari-hari. Untuk makan, aku harus bekerja mencari nafkah sendiri. Kehidupan seperti ini ku jalani sejak umurku 5 tahun. Karena sebelumnya aku hidup bersama seorang janda tua yang sudah kuanggap sebagai nenekku sendiri.  Dan dialah yang sudah merawatku sejak kecil.
          Nenek hanyalah seorang pemulung, dan dialah yang menemukan seorang bayi mungil di tempat sampah saat dia sedang menjalani pekerjaannya. Karena merasa kasihan, nenek merawat dan membesarkan bayi itu. Tapi sayangnya, nenek meninggal saat bayi yang di besarkannya sudah berumur 5 tahun. Dan sejak itulah aku harus hidup sendirian. Sekarang aku tak ingat lagi seperti apa wajah nenek, karena nenek pergi saat aku masih kecil.
          Satu-satunya yang ditinggalkan nenek hanyalah sebuah pondok kecil yang sudah tua dan reyot. Di situlah aku tinggal, dengan di temani seekor anjing yang sudah kurawat selama setahun lebih. Aku menemukan anjing itu di jalan saat aku pulang sekolah. Dan aku membawanya kegubuk, lalu kurawat dan kubesarkan sampai saat ini. Walau hanya seekor anjing, tapi aku menyayanginya.
          Aku begitu iri terhadap teman-temanku. Mereka beruntung karena selalu bisa merasakan kehangatan keluarga. Mereka tak harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Disaat mereka kesulitan, mereka punya tempat untuk bernaung. Sedangkan aku…..
          Aku sangat membenci orang tuaku walau aku tak kenal siapa mereka. Dalam hatiku selalu berdoa, semoga tuhan melaknat laki-laki dan perempuan yang telah membuangku. Apa salahku sehingga aku harus dibuang? Apa aku tak pernah diharapkan lahir di dunia ini??
          Namun tak bisa kupungkiri, aku sangat kesepian. Aku merindukan belaian orang tua, aku ingin ada yang menemaniku. Aku tak tahan bila harus tetap tinggal di gubuk tua ini sendirian. Namun aku sadar, itu semua mustahil. Tak mungkin itu dapat terwujudkan…
          ***
          Kulihat sekali lagi jam dinding yang ada di depanku, dan waktu tersisa 10 menit lagi. Tanpa pikir panjang, segera ku mainkan pensilku di atas kertas putih itu. Secepat mungkin pensil itu ku gerakkan karena waktu tinggal sedikit lagi. Aku baru ingat wajah yang sangat aku sayang, dan wajah itulah yang akan kulukis.
          “Waktunya habis, sekarang cepat kumpulkan” ucap Pak Guru dengan nada cukup keras. Untungnya gambar yang ku lukis sudah selesai. Aku dan teman-teman segera berbondong-bondong mengumpulkan lukisan yang kami buat.  Dalam waktu sebentar saja, semua lukisan sudah bertumpukan dan berserakan  di atas meja pak guru.
          “Gambarnya bagus-bagus juga” ujar pak Guru yang melihat-lihat beberapa gambar yang berada di atas mejanya sambil merapikan gambar tersebut. Dia tak tahu, gambar apa yang aku buat, dia dia pasti belum melihatnya. Tapi aku tak takut jika dia melihat gambar itu, karena anjingku adalah satu-satunya yang aku punya dan yang aku sayang. Jadi tak masalah jika anjingku yang kulukis.