Rabu, 08 Mei 2013

ANAKKU ANAK PACU


ANAKKU ANAK PACU
Karya : Rico Cahyanto
SMAN Pintar Kuantan Singingi


          Siang yang terik seakan menunjukkan keperkasaan mentari yang sepertinya tak mengerti dengan keadaan berjuta manusia di bumi jalurku ini. Dalam desakan rapat lautan manusia aku masih mencoba untuk bisa sampai ke tempat yang nyaman untukku bisa duduk manis, sambil menyantap makanan yang ada dalam tasku. Sudah menjadi kebiasaanku, sebelum sampai di tribun bagian depan aku tidak akan puas. Masih begitu dan begitu terus yang kualami setiap kali di kotaku  melaksanakan pesta budaya Pacu Jalur. Pacu Jalur adalah balap sampan yang berukuran kira-kira 30 meter  yang disebut jalur. Jalur didayung oleh kira-kira 40 orang yang disebut anak pacu.
          Setelah beberapa menit berdesakan, akhirnya aku menemukan tempat yang cukup strategis di tribun depan bagian kanan ini. Tepat di samping seorang bapak yang terlihat diam tak berekspresi. Hal yang tak biasa kujumpai dalam acara semacam ini, acara yang hampir kupastikan semua orang akan sekuat tenaga menyemangati jalur andalan mereka. Setelah duduk disampingnya beberapa menit hanya diam, aku makin penasaran kemudian aku bertanya.
          “Maaf, Pak. Sepertinya Bapak terlihat murung. Di acara semeriah ini sungguh mengherankan ada seorang yang termangu. Adakah sesuatu yang mungkin bisa saya bantu, Pak?”
          “Tidak ada apa-apa, Nak. Bapak sedang kurang bersemangat saja” ujar bapak itu datar.
          “Oh, baiklah kalau Bapak tidak mau cerita.” Aku membalas tanggapan bapak itu dengan lebih cuek. Tanpa kata aku menyodorkan makanan dari tasku kepada bapak itu. Dengan gelengan lemahnya aku segera tahu untuk harus tetap diam saja pada bapak itu. Walaupun masih begitu penasaran, aku melahap makanan yang kubawa tadi sambil melayangkan pandangan ke depan sana. Terlihat dua buah jalur  yang beradu cepat disana.
***   
Malam itu Bujang baru sampai dirumah, dia adalah seorang mahasiswa di Jakarta. Ia pulang karena sudah beberapa bulan tidak pulang kampung, sekaligus  ingin memberitahu kepada kedua orang tuanya mengenai penyakit ginjal yang ia idap. Ia baru mengetahui  adanya penyakit itu setelah beberapa minggu yang lalu ia memeriksakannya.
          “Ayah, ada hal penting yang ingin Bujang katakan” kata bujang ketika sudah berhadapan dengan ayahnya.
          “Hmm… Tapi sebelum kamu mengatakannya, ayah ingin menyampaikan pesan dari kakekmu ketika kemarin dia mendengar kamu akan pulang” kata ayah si Bujang.
          “Kalau memang begitu, katakan saja apa yang dipesankan kakek, Ayah” ujar Bujang.
          “Begini, Nak. Seminggu lagi Pacu Jalur akan dimulai. Kakekmu ingin melihatmu menjadi anak pacu tahun ini. Meski bagaimana nanti hasilnya, yang terpenting ia ingin melihatmu berpacu. Ia ingin kamu seperti dia dan ayah dulu. Selain mantan anak pacu, tahun ini kakekmu juga menjadi pembuat jalur kampung kita. Jadi, ia sangat berharap kamu bersedia menjadi anak pacu.” Ayahnya menjelaskan perihal tersebut.
Ayah si Bujang kemudian bertanya, “Jadi, bagaimana? Kamu mau menjadi anak pacu? Kali ini saja tidak apa-apa, setelah itu baru kamu bisa kembali ke Jakarta.”
          Karena kaget dan bingung dengan apa yang disampaikan ayahnya itu, Bujang menunduk. Dalam pikirannya berkecamuk antara apakah ia menolak dan mengatakan perihal penyakitnya atau ia menyanggupinya dan tetap menyembunyikan perihal penyakit yang menyerangnya.
          “Bujang, bagaimana? Kamu bersedia menjadi anak Pacu? Sebenarnya ayah sangat berharap kamu menyanggupi permintaan kakekmu. Ayah juga sangat ingin melihatmu mengayuh dayungmu digelanggang pacu. Walaupun tidak bagitu terlatih, tapi ayah yakin kamu bisa karena kamu sudah terbiasa mendayung dari kecil.” Kata ayahnya mengagetkan Bujang yang sedang bingung.
          “Hmm… Baiklah, Ayah. Aku akan ikut menjadi anak pacu sesuai permintaan kakek” jawab Bujang sekenanya.
          “Bagus, kalau  memang kamu bersedia. Besok pagi kamu langsung ikut berlatih saja. Kakekmu pasti  sudah menunggumu disana” kata ayah si Bujang begitu gembira. “Tapi, tadi kamu ingin mengatakan sesuatu pada ayah. Perihal apa itu, Bujang” tanyanya lagi.
          “Hmm…Tidak terlalu penting kok, Yah!” jawab Bujang gugup.
          “Kalau begitu sekarang kamu cepat istirahat, siapkan energimu untuk besok” kata ayah si Bujang.
          “Baik, Ayah.” Jawab Bujang ketika meninggalkan ayahnya sambil terus menunduk, memikirkan bagaimana caranya dia mengatakan kepada ayahnya bahwa ginjalnya tak lagi berfungsi dengan baik. Sekaligus mengatakan bahwa dia tidak boleh lagi melakukan kegiatan yang melelahkan, tapi ia tak ingin mengecewakan kakeknya yang ingin melihat cucu satu-satunya ini mengangkat tangan mengacungkan pendayungnya di gelanggang pacu.
          Malam itu, mata Bujang seakan ikut berkecamuk seperti pikirannya.  Tidak mau terpejam, sampai  lewat dari jam 2 dia baru bisa memejamkannya. Dia baru terbangun ketika kumandang adzan bersahutan di seantero kampung. Dengan mata yang setengah terpejam ia  keluar kamar dan menuju tempat wudhu. Setelah shalat subuh, ternyata pikirannya masih belum tenang. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk segera pergi menuju tempat latihan anak-anak pacu kampungnya.
“Nah, itu dia Bujang. Kalau begitu dia bisa menggantikan Ujang yang sekarang sedang sakit.” Begitu kata kakek ketika Bujang baru tiba di tempat latihan itu.
          Bujang sudah mengenal mereka semua yang ada di tempat latihan itu, karenanya  mudah saja ia bergabung dengan percakapan mereka. Sampai akhirnya mereka memulai latihan pagi itu.  Setelah latihan selesai, Bujang merasa sangat lemah.
          “Bujang, kamu sepertinya pucat sekali. Kamu sedang sakit?” tanya kakek Bujang khawatir.
          “Tidak, Kek. Mungkin kelelahan saja” jawab Bujang lirih. Dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada kakeknya.
          “Oh, kalau begitu cepatlah pulang dan segera istirahat. Besok kita masih latihan lagi” kata kakek Bujang.
          “Iya, Kek” jawab Bujang sambil berdiri. Bujang segera mempercepat  langkah gontainya menuju rumahnya. Menguatkan keadaannya, meskipun ia sungguh-sungguh tersiksa.
          Begitu setiap hari, sampai akhirnya hari yang ditunggu tiba. Meskipun Bujang sudah merasa keadaannya hampir tidak mungkin untuk ikut mendayung jalur, tapi ia masih ingin mewujudkan harapan kakek dan ayahnya itu. Dengan senyum pucatnya, ia menatap kakek dan ayahnya yang ada di barisan penonton di tribun itu sebelum jalurnya dilepas. Sampai akhirnya dilepas sudah jalur si Bujang.
          Terus mendayung, tidak peduli lagi dengan semakin lemah dirinya. Bujang terus berusaha mengimbangi kekuatan teman-temannya. Sementara di barisan penonton, ayah dan kakeknya bersorak kegirangan, karena melihat jalur dari kampungnya itu melaju jauh meninggalkan lawannya. Sampai akhirnya jalur si Bujang masuk di pancang finish. Sementara semua anak pacu mengangkat dayungnya, terlihat satu anak pacu yang tertunduk lemah di jalur.
          Sementara ayah dan kakek Bujang yang sangat bahagia mengetahui jalurnya menang, seketika terdiam tercengang.
***
          “Begitulah ceritanya, Nak. Sampai sekarang bapak sangat menyesali kejadian itu, Nak. Coba pada saat itu bapak mendengar dulu apa yang ingin dikatakan si Bujang, hal itu pasti tidak akan terjadi.” Terang bapak yang ada disampingku itu sambil menyeka air matanya.
          “Sudahlah, Pak. Itu semua memang sudah ketentuan dari Allah. Bapak harus tetap bersabar, ya.” Jawabku menenangkan bapak itu.

0 komentar:

Posting Komentar