ANAKKU ANAK PACU
Karya
: Rico Cahyanto
SMAN
Pintar Kuantan Singingi
Siang yang terik seakan menunjukkan
keperkasaan mentari yang sepertinya tak mengerti dengan keadaan berjuta manusia
di bumi jalurku ini. Dalam desakan rapat lautan manusia aku masih mencoba untuk
bisa sampai ke tempat yang nyaman untukku bisa duduk manis, sambil menyantap
makanan yang ada dalam tasku. Sudah menjadi kebiasaanku, sebelum sampai di tribun
bagian depan aku tidak akan puas. Masih begitu dan begitu terus yang kualami
setiap kali di kotaku melaksanakan pesta
budaya Pacu Jalur. Pacu Jalur adalah balap sampan yang berukuran kira-kira 30
meter yang disebut jalur. Jalur didayung
oleh kira-kira 40 orang yang disebut anak pacu.
Setelah beberapa menit berdesakan,
akhirnya aku menemukan tempat yang cukup strategis di tribun depan bagian kanan
ini. Tepat di samping seorang bapak yang terlihat diam tak berekspresi. Hal
yang tak biasa kujumpai dalam acara semacam ini, acara yang hampir kupastikan
semua orang akan sekuat tenaga menyemangati jalur andalan mereka. Setelah duduk
disampingnya beberapa menit hanya diam, aku makin penasaran kemudian aku
bertanya.
“Maaf, Pak. Sepertinya Bapak terlihat
murung. Di acara semeriah ini sungguh mengherankan ada seorang yang termangu.
Adakah sesuatu yang mungkin bisa saya bantu, Pak?”
“Tidak ada apa-apa, Nak. Bapak sedang
kurang bersemangat saja” ujar bapak itu datar.
“Oh, baiklah kalau Bapak tidak mau
cerita.” Aku membalas tanggapan bapak itu dengan lebih cuek. Tanpa kata aku
menyodorkan makanan dari tasku kepada bapak itu. Dengan gelengan lemahnya aku
segera tahu untuk harus tetap diam saja pada bapak itu. Walaupun masih begitu
penasaran, aku melahap makanan yang kubawa tadi sambil melayangkan pandangan ke
depan sana. Terlihat dua buah jalur yang
beradu cepat disana.
***
Malam
itu Bujang baru sampai dirumah, dia adalah seorang mahasiswa di Jakarta. Ia pulang
karena sudah beberapa bulan tidak pulang kampung, sekaligus ingin memberitahu kepada kedua orang tuanya
mengenai penyakit ginjal yang ia idap. Ia baru mengetahui adanya penyakit itu setelah beberapa minggu
yang lalu ia memeriksakannya.
“Ayah, ada hal penting yang ingin
Bujang katakan” kata bujang ketika sudah berhadapan dengan ayahnya.
“Hmm… Tapi sebelum kamu mengatakannya,
ayah ingin menyampaikan pesan dari kakekmu ketika kemarin dia mendengar kamu
akan pulang” kata ayah si Bujang.
“Kalau memang begitu, katakan saja apa
yang dipesankan kakek, Ayah” ujar Bujang.
“Begini, Nak. Seminggu lagi Pacu Jalur
akan dimulai. Kakekmu ingin melihatmu menjadi anak pacu tahun ini. Meski
bagaimana nanti hasilnya, yang terpenting ia ingin melihatmu berpacu. Ia ingin
kamu seperti dia dan ayah dulu. Selain mantan anak pacu, tahun ini kakekmu juga
menjadi pembuat jalur kampung kita. Jadi, ia sangat berharap kamu bersedia
menjadi anak pacu.” Ayahnya menjelaskan perihal tersebut.
Ayah
si Bujang kemudian bertanya, “Jadi, bagaimana? Kamu mau menjadi anak pacu? Kali
ini saja tidak apa-apa, setelah itu baru kamu bisa kembali ke Jakarta.”
Karena kaget dan bingung dengan apa
yang disampaikan ayahnya itu, Bujang menunduk. Dalam pikirannya berkecamuk
antara apakah ia menolak dan mengatakan perihal penyakitnya atau ia
menyanggupinya dan tetap menyembunyikan perihal penyakit yang menyerangnya.
“Bujang, bagaimana? Kamu bersedia
menjadi anak Pacu? Sebenarnya ayah sangat berharap kamu menyanggupi permintaan
kakekmu. Ayah juga sangat ingin melihatmu mengayuh dayungmu digelanggang pacu.
Walaupun tidak bagitu terlatih, tapi ayah yakin kamu bisa karena kamu sudah
terbiasa mendayung dari kecil.” Kata ayahnya mengagetkan Bujang yang sedang
bingung.
“Hmm… Baiklah, Ayah. Aku akan ikut
menjadi anak pacu sesuai permintaan kakek” jawab Bujang sekenanya.
“Bagus, kalau memang kamu bersedia. Besok pagi kamu
langsung ikut berlatih saja. Kakekmu pasti
sudah menunggumu disana” kata ayah si Bujang begitu gembira. “Tapi, tadi
kamu ingin mengatakan sesuatu pada ayah. Perihal apa itu, Bujang” tanyanya
lagi.
“Hmm…Tidak terlalu penting kok, Yah!” jawab Bujang gugup.
“Kalau begitu sekarang kamu cepat
istirahat, siapkan energimu untuk besok” kata ayah si Bujang.
“Baik, Ayah.” Jawab Bujang ketika
meninggalkan ayahnya sambil terus menunduk, memikirkan bagaimana caranya dia
mengatakan kepada ayahnya bahwa ginjalnya tak lagi berfungsi dengan baik. Sekaligus
mengatakan bahwa dia tidak boleh lagi melakukan kegiatan yang melelahkan, tapi
ia tak ingin mengecewakan kakeknya yang ingin melihat cucu satu-satunya ini
mengangkat tangan mengacungkan pendayungnya di gelanggang pacu.
Malam itu, mata Bujang seakan ikut
berkecamuk seperti pikirannya. Tidak mau
terpejam, sampai lewat dari jam 2 dia
baru bisa memejamkannya. Dia baru terbangun ketika kumandang adzan bersahutan
di seantero kampung. Dengan mata yang setengah terpejam ia keluar kamar dan menuju tempat wudhu. Setelah
shalat subuh, ternyata pikirannya masih belum tenang. Sampai akhirnya dia
memutuskan untuk segera pergi menuju tempat latihan anak-anak pacu kampungnya.
“Nah,
itu dia Bujang. Kalau begitu dia bisa menggantikan Ujang yang sekarang sedang
sakit.” Begitu kata kakek ketika Bujang baru tiba di tempat latihan itu.
Bujang sudah mengenal mereka semua
yang ada di tempat latihan itu, karenanya mudah saja ia bergabung dengan percakapan
mereka. Sampai akhirnya mereka memulai latihan pagi itu. Setelah latihan selesai, Bujang merasa sangat
lemah.
“Bujang, kamu sepertinya pucat sekali.
Kamu sedang sakit?” tanya kakek Bujang khawatir.
“Tidak, Kek. Mungkin kelelahan saja” jawab
Bujang lirih. Dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada kakeknya.
“Oh, kalau begitu cepatlah pulang dan
segera istirahat. Besok kita masih latihan lagi” kata kakek Bujang.
“Iya, Kek” jawab Bujang sambil
berdiri. Bujang segera mempercepat
langkah gontainya menuju rumahnya. Menguatkan keadaannya, meskipun ia
sungguh-sungguh tersiksa.
Begitu setiap hari, sampai akhirnya
hari yang ditunggu tiba. Meskipun Bujang sudah merasa keadaannya hampir tidak
mungkin untuk ikut mendayung jalur, tapi ia masih ingin mewujudkan harapan
kakek dan ayahnya itu. Dengan senyum pucatnya, ia menatap kakek dan ayahnya
yang ada di barisan penonton di tribun itu sebelum jalurnya dilepas. Sampai
akhirnya dilepas sudah jalur si Bujang.
Terus mendayung, tidak peduli lagi
dengan semakin lemah dirinya. Bujang terus berusaha mengimbangi kekuatan
teman-temannya. Sementara di barisan penonton, ayah dan kakeknya bersorak
kegirangan, karena melihat jalur dari kampungnya itu melaju jauh meninggalkan
lawannya. Sampai akhirnya jalur si Bujang masuk di pancang finish. Sementara
semua anak pacu mengangkat dayungnya, terlihat satu anak pacu yang tertunduk
lemah di jalur.
Sementara ayah dan kakek Bujang yang
sangat bahagia mengetahui jalurnya menang, seketika terdiam tercengang.
***
“Begitulah ceritanya, Nak. Sampai
sekarang bapak sangat menyesali kejadian itu, Nak. Coba pada saat itu bapak
mendengar dulu apa yang ingin dikatakan si Bujang, hal itu pasti tidak akan
terjadi.” Terang bapak yang ada disampingku itu sambil menyeka air matanya.
“Sudahlah, Pak. Itu semua memang sudah
ketentuan dari Allah. Bapak harus tetap bersabar, ya.” Jawabku menenangkan
bapak itu.








0 komentar:
Posting Komentar